Indonesia | English
BERANDA
PETA LOKASI
OBYEK WISATA
MASYARAKAT LOKAL
GALERI FOTO
BUKU TAMU
LINKS

TNGHS

TNGHS

TNGHS

Berita
Rabu, 27 Januari 2010 10:57:42
Berita TNGHS
Perpanjangan Masa Penutupan Sementara Pendakian Gunung Salak dan Obyek Wisata Kawah Ratu TNGHS
Kategori: Umum (155 kali dibaca)

Berdasarkan evaluasi terhadap kondisi cuaca pada musim penghujan saat ini yang disertai angin kencang, maka masa penutupan sementara pendakian Gunung Salak dan Obyek Wisata Kawah Ratu, TNGHS diperpanjang hingga tanggal 31 Maret 2010


 
Selasa, 19 Januari 2010 13:19:26
Dari hasil Monitoring Macan Tutul di TNGHS
Macan Tutul Jawa Tertangkap Kamera TNGHS
Kategori: Umum (177 kali dibaca)
Bogor, Kompas - Dua ekor macan tutul jawa (Panthera padus melas) dewasa tertangkap kamera yang dipasang tim pemantau macan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Hasil cetak foto dari kamera tersebut juga mengungkap jalur jelajah satwa langka tersebut dilintasi oleh manusia.
 
Jumat, 08 Januari 2010 12:10:03
Penutupan Jalur Pendakian Gn. Salak dan Obyek Wisata Kawah Ratu
Kategori: Umum (171 kali dibaca)
Penutupan Jalur Pendakian Gn. Salak dan Obyek Wisata Kawah Ratu
 
Rabu, 16 Desember 2009 10:38:08
Adopt A Tree
Kategori: Umum (139 kali dibaca)
Restorasi kawasan koridor Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang dilakukan secara sukarela oleh kelompok masyarakat setempat dan melalui program adopsi pohon yang melibatkan berbagai pihak, antara lain dari kalangan universitas, lembaga peneliti, LSM (lokal dan internasional) dan partisipasi secara individual. 
 
Rabu, 16 Desember 2009 10:36:15
Santri Ikut Rehabilitasi TNGHS
Kategori: Umum (99 kali dibaca)
Tiga pondok pesantren dan warga sekitar di Kec. Cidahu, Kab. Sukabumi dilibatkan untuk merehabilitasi tiga puluh tiga hektar lahan kritis di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
 
Senin, 14 Desember 2009 20:37:28
Dengan Rp 50.000, Bisa Selamatkan Hutan
Kategori: Umum (133 kali dibaca)

Para pemerhati lingkungan sudah waktunya mengambil aksi nyata. Salah satunya dengan menjadi adopter atau penyumbang donasi sebesar Rp 50.000. Uang sebesar itu sudah bisa membiayai pembelian bibit pohon dan biaya perawatannya selama lima tahun.

Inilah langkah yang dilakukan pengelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di wilayah Cianten, Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Minggu (13/12) kemarin.

 
Jumat, 30 Oktober 2009 12:10:31
Laporan Pengamatan Visual/Cuaca di Pos Pengamatan Gunungapi Salak (bulan September 2009)
Kategori: Umum (276 kali dibaca)
Laporan hasil pengamatan bulan September terhadap kondisi visual/cuaca di pos pengamatan Gunungapi Salak, Jawa Barat.
 
Kamis, 29 Oktober 2009 16:59:11
Elang Alap Jambul Diliarkan
Kategori: Umum (265 kali dibaca)

Elang Alap Jambul Diliarkan

Jurnal Bogor, 18 October 2009 oleh Meisa Almas
Rubrik: Bogor Barat

Cijeruk - Suaka Elang (Raptor Sanctuary), kemarin pukul 10.00 WIB melakukan kegiatan pelepasliaran satu ekor Elang Alap Jambul (Accipiter trivirgatus) oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Loji, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, yang dilanjutkan dengan peresmian jembatan gantung dan pembukaan kemah konservasi.


 
Kamis, 20 Agustus 2009 14:42:00
Suaka Elang melepasliarkan seekor Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
Elang Jawa Dilepasliarkan di Gunung Gede Pangrango
Kategori: Umum (264 kali dibaca)
Elang Jawa Dilepasliarkan di Gunung Gede Pangrango
/

Kamis, 20 Agustus 2009 | 02:16 WIB

BOGOR, KOMPAS - Satu ekor elang jawa ( Spizaetus bartelsi) hasil sitaan dilepasliarkan kembali di habitat aslinya di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sehari setelah hari kemerdekaan Indonesia. Satwa tersebut adalah salah satu satwa edemik (yang hanya hidup) di Pulau Jawa.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Taman Nasional Gunung Halimun Salak , Rabu (19/8), diingatkan bahwa elang jawa adalah burung yang diidentikkan dengan lambang negara Indonesia, yaitu Garuda. Pada tahun 1993, elang jawa ditetapkan sebagai salah satu dari tiga satwa yang identik dengan bangsa dan negara Indonesia.  

"Elang jawa yang dilepasliarkan ini berasal dari PPS Cikanagara, yang kami terima akhir tahun 2008. PPS menyita dari warga yang memeliharanya secara ilegal. Setelah menjalani tahapan rehabilitasi di Suaka Elang, elang jawa ini akhirnya siap untuk menjadi satwa liar di habitat aslinya," kata Gunawan, koordinator Suaka Elang.

Berdasarkan data dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS), dalam lima tahun terakhir tidak kurang 20 ekor elang jawa disita dari pemeliharaannya secara ilegal. Diduga, jumlah satwa ini yang ada di perdagangan gelap lebih banyak lagi. Satwa ini di alam liar jumlahnya pun makin terancam susut akibat perburuan dan perdagangan liar serta kerusakan hutan habitatnya.

PPS adalah lembaga nirlaba di bawah pengendalian Departemen Kehutanan cq Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Begitu juga Suaka Elang, adalah organisasi nirlaba yang aktivisnya adalah organisasi atau individu pemerhati dan peduli pada kelestarian satwa yang dilindungi, termasuk burung raptor (pemangsa) khususnya elang. Suaka Elang berlokasi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Menurut Gunawan, elang hasil sitaan tidak serta-mereta dapat dilepasliarkan di habitat aslinya. Elang tersebut harus diobservasi dan menjalani berbagai penialaian atau kajian kelayakannya, seperti masalah kesehatan fisik dan perilakunya. Perilaku tersebut meliputi kesiapan dirinya berburu di alam, sosialisasinya dengan sesama jenis maupun jenis satwa lain, dan perilaku umum seperti terbang, bertengger, serta bersarang. Selain satwanya, kajian juga dilaksanakan pada habitat yang menjadi lokasi pelepasliaran.

Jadi, kata Usep Suparman dari Raptor Conservation Socisty, elang jawa dilepaskan di kawasan Tapos Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada ketinggian 950-1500 mdpl ini bukan asal pilih, tetapi berdasarkan kajian yang cukup mendalam. Lokasi ini layak untuk tempat pelepasliaran karena merupakan kawasan penyanggga taman nasional, tingkat gangguan dan ancaman pada elang relatif kecil dan ketersedian pangannya cukup, kata Usep.

Kegiatan pelepasliaran satu ekor elang Jawa tersebut berlangsung Selasa (18/8) pagi di resort PTN Tapos BTN Wilayah III, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrang di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Seremonial pelepasliaran dilakukan Dirjen PHKA Darori dan disaksikan para undangan dan perwakilan dari berbagai LSM lingkungan dan pemerintah daerah setempat.

 
Selasa, 04 Agustus 2009 10:08:10
Berita Suaka Elang
Bambang Supriyanto: Saving the Heart of Java
Kategori: Umum (326 kali dibaca)

Bambang Supriyanto: Saving the Heart of Java

Theresia Sufa ,  The Jakarta Post ,  Bogor   |  Tue, 07/14/2009 11:09 AM  |  People

JP/Theresia SufaJP/Theresia Sufa

Mount Halimun Salak National Park, the "Heart of Java", is an important natural wonderland and, according to head of the park Bambang Supriyanto, a potential laboratory.

The park (TNGHS) with its plentiful rivers creates a water tower, making it an important artery for people in West Java and Banten. The mountainous forest zone is also home to endemic Java eagles (Spizaetus bartelsi) and Java gibbons (Hylobates moloch) - animals that are now endangered.

It is this very abundance of life that Bambang wishes to draw upon in his dream to "make Mount Halimun Salak National Park a natural laboratory".

"For this I'm trying to restore several damaged parts and corridors of the forest to make it a comfortable home for various wildlife species," he said.

"I hope researchers will come here to study because this park's abundant resources have never been fully revealed."

The 45-year-old from Penawangan village, in Central Java's Grobogan, gained his doctorate in land and forestry management with high distinction from the State University of Ghent, Belgium, in 1997. Before taking over at the park, he worked with the World Wildlife Fund (WWF).

"I started working with TNGHS on November 14, 2006, when my contract with WWF Indonesia was not yet over, but I considered this appointment of equal importance because it meant I would be able to directly deal with the Heart of Java," Bambang said.

"For me, my work serves as an investment that is of great benefit to all living beings."

TNGHS is Java's largest mountain national park, spanning an area of 113,357 hectares. It is the site of 117 upstream rivers, most notably the Cisadane, Cibarano and Citarik rivers, whose strong and challenging currents make them attractive for recreational rafting.

The rivers are also a source of livelihood for the communities of West Java and Banten communities - and a source of life for the rich abundance of wildlife, including the Java eagles and gibbons now on the red list of endangered species of the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

Bambang's goal of turning the area into "a natural laboratory" began with the construction of an eagle sanctuary in the zone in November 2008.

"It was formerly a protected forest for production, so research on its biodiversity was limited and therefore needs to be continued," Bambang said.

"Over the past three years we have undertaken a scientific expedition along with the Indonesian Institute of Sciences, Japan International Cooperation Agency and Bandung Institute of Technology to discover Mt. Salak's diverse flora and fauna."

In managing the national park, Bambang faces three major problems. The first is the pressure of human activities in the form of illegal logging and mining, forest squatting and hunting. The area is home to nearly 100,000 people across 52 villages, most of who live below the poverty line.

The second problem is deforestation at the annual rate of around 1 percent from 1989 to 2003, particularly in former production areas.

Third is the mountain's high potential for gold and galena mining, which tempts officials in the regional administration to grant mining licenses.

To overcome these issues, Bambang has adopted a policy of commitment sharing with relevant parties, as manifested in the TNGHS Management Plan Collaboration for 2007-2026. These parties share a common vision of using the national park for the good of the people as well as protecting and conserving its natural resources while controlling the rate of deforestation.

As part of this, Bambang has developed a close relationship with the ethnic Cipta Gelar community inhabiting the mountain forest.

"We are on very good terms and in the forest management context we have a common understanding of viable forest spatial layout and rules," he said.

Among these rules is the division of the forest into separate areas where different activities are permitted.

"Some forest areas are called Leuweng titipan according to the local custom, which is the core zone where no human activities are allowed. Others are Leuweng tutupan or the jungle zone with its upstream rivers and wildlife habitat, where human activities are considerably limited," he said.

"The rest are Leuweng garapan or the traditional zone where human activity has to abide by customary rules, such as growing paddy only once a year and maintaining plantations. Any violation by residents faces the traditional punishment of kabendon or bad luck and the official discipline of legal punishment."

As head of TNGHS, Bambang is also preoccupied with executing "good park governance", the aim of which is to create a balance between the achievement of economic, environmental and social goals, and good public governance.

"I'm sure conservation will be eco-populist as it benefits all living beings. The park's management decisions have to be transparent, democratic and accountable, so that the regulations in force are observed."

To this end, Bambang has set up forums for good governance, Gede Pangrango Halimun Salak Club and the Eagle Sanctuary Club, of which he is the secretary and board chairman.

"I hope the public becomes aware about what we are doing in this park to ensure its continuity."

Java has only 17.2 percent of its forests left, while, he said, "the ideal rate is 30 percent". And that, he added, is why it is important to save this Heart of Java.

 
» Indeks Berita
Tanggal:
Bulan:
Gunung Halimun Salak National Park Management Project - JICA
© 2008 Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS)